Info Sekolah
Selasa, 23 Jul 2024
  • PESANTREN GRATIS DI JAKARTA UTARA YANG DIDIRIKAN PADA TAHUN 1983 OLEH UST. ABDULLAH HANAFI
  • PESANTREN GRATIS DI JAKARTA UTARA YANG DIDIRIKAN PADA TAHUN 1983 OLEH UST. ABDULLAH HANAFI
2 April 2015

Seputar Haid (Bagian 1)

Kam, 2 April 2015 Dibaca 397x Fiqh / Haid


DARAH HAID

1. Qs: 2: 222
“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”

Keterangan
Pada Qs: 2: 222. Ini menunjukkan bahwa:
  1. Darah haidh itu darah kotor/najis.
  2. Suami tidak boleh mencampurinya selama isterinya dalam keadaan haid.
  3. Kata الحيض adalah Majaz, artinya tempat haid tetapi yang dimaksud hal ((حلا  yaitu haidnya itu sendiri.
LARANGAN BAGI PEREMPUAN HAID
Ada beberapa larangan bagi perempuan yang sedang haid. Maksudnya apabila ia lakukan hukumnya haram, antara lain:
A. BERCAMPUR/SENGGAMA
Dasar hukumnya:
1. Qs: 2: 222
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang darah haid, katakanlah! Haid itu najis, maka jauhilah oleh kamu isteri-isteri yang dalam keadaan haid….”
2. SB: I: 1: 78 : BAB Haid
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَالنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلّم مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ كِلاَنَا جُنُبٌ وَكَانَ يَأْمُرُنِى فَأَتَّزِرُ فَيُبَاشِرُنِى وَأَنَا حَائِضٌ وَكَانَ يَحْرُجُ رَأْسَهُ إِلَيَّ وَهْوَ مُعْتَكِفٌ فَأَغْسِلُهُ وَأَنَاحَائِضٌ.
“Dari Aisyah, telah berkata: Aku pernah mandi bareng bersama Nabi saw dari satu bejana, kami berdua dalam keadan junub. Dan pernah juga aku disuruh memakai kain, lalu beliau mencumbuku padahal aku sedang haid dan pernah juga beliau mengeluarkan kepalanya kepadaku (dari dalam Masjid) ketika beliau sedang/I’tikaf, lalu kubersihkan kepalanya padahal aku sedang haid.”
3, SB: I: 1: 78
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَتْ إِحْدَانَا إِذَا كَانَتْ حَائِضًا فَأَرَادَ رَسُوْلُ اللهِ أَنْ يُبَاشِرَهَا أَمَرَهَا أَنْ تَتَّظِرَ فِى فَوْرِحَيْطَتِهَا ثُمَّ يُبَاشِرُهَا قَالَتْ: وَأَيُّكُمْ يَمْلِكُ إِرْبَهُ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلّم يَمْلِكُ إِرْبَهُ.
“Dari Aisyah telah berkata: Pernah seorang diantara kami apabila didalam keadaan haid, lalu Rasulullah saw ingin mencumbunya, maka beliau menyuruhnya agar memakai kain sesudah itu beliau mencumbunya. Ia (Aisyah) berkata: Dan siapakah diantara kamu yang sanggup mengendalikan nafsunya sebagaimana Nabi saw sanggup mengendalikannya.”
4. SM: I: 149: 1
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ إِحْدَا نَا إِذَا كَانَتْ حَائِضًا أَمَرَهَا رَسُووْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلّم فَنَتَأْتَزِرُ بِإِزَارٍ. ثُمَّ يُبَاشِرَهَا.
“Dari Aisyah telah berkata: Ada diantara kami (isteri-isteri Rasulullah saw) apabila haid, beliau menyuruhnya agar memakai kain, kemudian beliau mencumbunya.”
5. SM: I: 149: 2
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ إِحْدَانَا إِذَا كَانَتْ حَائِضًا أَمَرَهَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلّم  أَنْ تَأْتَزِرَ فِى فَوْرِ حَيْضَتِهَا . ثُمَّ يُبَاشِرَهَا. قَالَتْ: وَأَيُّكُمْ يَمْلِكُ إِرْبَهُ كَمَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلّم يَمْلِكُ إِرْبَهُ.
“Dari Aisyah telah berkata: Diantara kami apabila ada yang haid, Rasulullah saw menyuruhnya agar memakai kain, kemudian beliau mencumbunya, Aisyah berkata: Siapakah diantrara kamu yang sanggup menahan libidonya sebagaimana Rasulullah saw sanggup mengendalikan libidonya.”
6. SM: I: 151: 16
عَنْ أَنَسٍ.أَنَّ الْيَهُوْدَ كَانُوْا إِذَا حَاضَاتِ الْمَرْأَةُ فِيْهِمْ لَمْ يُؤَاكِلُوْهَا وَلَمْ يُحَامِعُوْهُنَّ فِى الْبُيُوْتِ. فَسَأَلَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلّم النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلّم فَأَنْزَلَ الله ُ تَعَالَى: وَيَسْأَلُوْنَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوْا النِّسَاءَ فِى الْمَحِيْضِ: إِلَى أَخِدِاْلأيَةِ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلّم إِصْنَعُوْا كُلَّ شَيْئٍ إِلأَّ النِّكَاحَ. فَبَلَغَ ذَلِكَ الْيَهُوْدَ فَقَالُوْا: مَايُرِيْدُ هَذَا الرَّجُلُ أَنْ يَدَعَ مِنْ أَمْرِنَا شَيْئًا إِلاَّ خَالَفَنَا فِيْهِ. نَجَاءَ أُسَيْدُ بْنُ حُضَيْرٍ وَعَبَّادُ بْنُ بِشْرٍ. فقَالاَ: يَأرَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلّم ‍‍‍‍إِنَّ الْيَهُوْدَ تَقُوْلُ : كَذَا.وَكَذَا. فَلاَ نُجَامِعُهُنَّ ؟ فَتَغَيَّرَ وَجْهُ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلّم حَتَّى ظَنَنَّا أَنْ قَدْ وَجَدَ عَلَيْهِمَا . فَخَرَجَا فَاسْتَقْبَلَهُمَا هَدِيَّةٌ مِنْ  ‍لَبَنٍ إِلَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلّم فَأَرْسَلَ فِى أَثَارِهِمَا فَسَقَاهُمَا. فَعَرَفَا أَنْ لَمْ يَجِدْ عَالَيْهِمَا.
“Dari Anas, bahwa Yahudi adalah apabila perempuan haid di kalangan mereka, mereka tidak mau makan bersama dan tidak boleh tinggal serumah. Maka para shohabat bertanya kepada Nabi saw, lalu turun Qs: 2: 222 (Dan mereka bertanya kepadamu tentang haid, katakanlah itu adalah najis, maka jauhilah isteri-isteri yang dalam keadaan haid) sampai akhir ayat. Kemudian Rasulullah saw berkata: Kamu boleh melakukan apa saja yang kamu mau kecuali bersenggama. Maka berita itu sampai kepada orang-orang Yahudi. Maka mereka berkata: Orang ini (Nabi saw) selalu hendak meremehkan dan menantang kita. Maka datanglah Usaid bin Hudhoir dan Abbad bin Bisyr kepada Rasulullah saw. Maka keduanya berkata: Orang-orang Yahudi berkata begini dan begitu. Apakah tidak lebih baik kita senggamai saja mereka (wanita haid)? Wajah Rasulullah saw berubah, sehingga kami menyangka, bahwa beliau marah kepada mereka berdua, lalu mereka pergi, kemudian Nabi saw menyuruh orang agar menyusul mereka untuk diberi susu. Dengan begitu mereka tahu bahwa Nabi saw tidak pernah marah kepada mereka.”
Keterangan
Pada hadits ini dijelaskan:
  1. Kebiasaan orang Yahudi, apabila ada wanita yang sedang haid dilingkungannya, maka tidak boleh berkumpul bareng bersama mereka, tidak boleh makan bareng.
  2. Padahal kata Nabi saw boleh melakukan apa saja wanita haid itu kecuali senggama.
  3. Nikah yang dimaksud, memakai ijab Kabul dan lainnya itu boleh saja dilakukan walaupun sedang haid.
  4. Wanita haid boleh melakukan apa saja dan dilakukan apa saja, yang tidak boleh adalah nikah/senggama.
7. SM: I: 149: 3
عَنْ مَيْمُوْنَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلّم   يُبَاشِرُ نِسَاءَهُ فَوْقَ اْلإِزَارِ زَهُنَّ حُيَّضٌ.
“Dari Maemunah telah berkata: Rasulullah saw pernah mencumbu para isterinya diatas kain padahal kami dalam keadan haid.”
Keterangan
  1. Qs: 2: 222. menunjukkan bahwa, isteri yang sedang haid harus dijauhi dalam pengertian haram disetubuhi.
  2. Pada hadits-hadits diatas, dibolehkan hanya sekedar bercumbu saling memakai kain.
bersambung …
Artikel ini memiliki

0 Komentar

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Info Sekolah

Pesantren Missi Islam Pusat Jakarta

NPSN 510031720021
Jln. Alur Laut Gg. Waru 1 RT.005 RW.03 Kp. Walang Kel. Rawabadak Selatan Kec. Koja, Jakarta Utara
TELEPON 021 4354582
EMAIL missiislampusat@gmail.com
WHATSAPP 6285883828202

Member Ustadz

TABUNGAN AKHIRAT

Bagi siapa saja kaum muslimin dan muslimat yang hendak menyalurkan infaq/ shodaqohnya untuk keperluan operasional harian pesantren termasuk makan para santri, bisa transfer ke :

No Rekening : ( 451 ) 700 995 912 7

Bank : BSI

A/N : Yayasan Missi Islam Kaaffah

Konfirmasi : 0858 8382 8202

semoga infaq/ shodaqoh para muhsinin menjadi amal ibadah dan pemberat timbangan di akhirat Amin...

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x