Ustadz Abdul Hanafi: Sang Pendobrak Gerbang Ilmu di Tanjung Priok
Di tengah gemuruh ibukota Jakarta, di kawasan Tanjung Priok, yang nyaris mustahil: sebuah lembaga pendidikan yang menolak logika pasar dan memegang teguh prinsip keikhlasan. Inilah kisah Ustadz Abdul Hanafi dan Pesantren Missi Islam Pusat, sebuah fase ilmu yang menawarkan pendidikan gratis seutuhnya, dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Lanjutan Pertama (SLP).
Siapa pun yang hidup di Jakarta tahu, pendidikan adalah komoditas mahal. Sekolah yang berkualitas seringkali hanya bisa diakses oleh kalangan berpunya. Fenomena inilah yang memicu gejolak batin Ustadz Abdul Hanafi. Beliau merasa kecewa dan prihatin melihat tingginya biaya pendidikan yang seolah menjadi tembok tebal penghalang bagi kaum dhuafa.
”Mempelajari ilmu adalah kewajiban dalam Islam. Tidak masuk akal jika kewajiban itu terhalang oleh uang,” demikian filosofi yang menjadi dasar pergerakan beliau.
Berpegangan pada keyakinan bahwa mencari ilmu adalah hak mutlak setiap Muslim, Ustadz Hanafi membulatkan tekad untuk melawan arus. Beliau mendirikan Pesantren Missi Islam Pusat dengan sebuah visi radikal: tidak hanya membebaskan biaya sekolah, tetapi juga menanggung seluruh kebutuhan dasar santri, termasuk ongkos makan dan tempat pemondokan. Konsep ini adalah sebuah “impian yang dimungkinkan” di tengah realitas Jakarta yang serba materialistis.
Fondasi Kuat di Atas Tekad yang Tak Seberapa
Perjalanan Ustadz Hanafi bukan tanpa rintangan. Beliau memulai semuanya dengan modal yang sangat terbatas, mengandalkan harta pribadinya yang tidak seberapa, namun diimbangi dengan tekad baja dan keyakinan mutlak pada pertolongan Allah SWT.
Beliau meletakkan fondasi dengan prinsip yang selalu ia pegang: “mempelajari dulu basic kebutuhannya.” Prinsip ini tidak hanya berlaku untuk pesantren, tetapi juga untuk para santrinya. Kurikulum di Pesantren Missi Islam disusun dengan cermat, memadukan ilmu-ilmu umum yang diajarkan di sekolah negeri dengan ilmu-ilmu agama yang mendalam (seperti Al-Qur’an, Hadis, Fikih, dan lain-lain).
Tujuannya jelas: mencetak generasi yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga unggul secara profesional. Ustadz Hanafi ingin melahirkan “ulama yang ahli dunia dan ahli akhirat,” yaitu sarjana, pejabat, atau profesional yang memiliki iman yang kokoh dan keahlian yang mumpuni.
Ketangguhan Menghadapi Badai
Walaupun tantangan pendanaan (“Rupiah bergerak terus,” seperti yang beliau sebutkan) selalu mengancam kelangsungan hidup pesantren, Ustadz Hanafi dan seluruh jajaran pengurus (termasuk para murid dan pengabdi seperti yang Bapak seIbutkan: Ustadz Dadang, Ustadz Emon Badruzaman, Ustadz Irsyad, Ustadz Asep, Ustadz Muslim, dan penyokong seperti Pak Dinar) menunjukkan ketangguhan luar biasa. Mereka bergotong royong, berjuang dari hari ke hari demi memastikan setiap anak dapat menimba ilmu tanpa perlu memikirkan biaya.
Kisah Pesantren Missi Islam Pusat dan perjuangan Ustadz Abdul Hanafi adalah sebuah bukti nyata bahwa niat tulus dan tekad kuat untuk berjuang di jalan kebaikan akan selalu menemukan jalannya. Mereka adalah cerminan dari filosofi yang abadi: “Barang siapa yang berjalan pada jalannya, maka dia akan sampai pada tujuannya.” Perjuangan mereka di Tanjung Priok telah menjadi mercusuar harapan bagi ribuan keluarga yang mendambakan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.
Dibaca 219x
