Info Sekolah
Selasa, 23 Jul 2024
  • PESANTREN GRATIS DI JAKARTA UTARA YANG DIDIRIKAN PADA TAHUN 1983 OLEH UST. ABDULLAH HANAFI
  • PESANTREN GRATIS DI JAKARTA UTARA YANG DIDIRIKAN PADA TAHUN 1983 OLEH UST. ABDULLAH HANAFI
12 April 2021

Penetapan Shaum Dengan Ru’yatul Hilal

Sen, 12 April 2021 Dibaca 514x Fiqh / Shoum

Penetapan Shaum Dengan Ru’yatul Hilal

Untuk menentukan shaum dan Idul Fithri harus mengetahui hilal/tanggal satu Romadhon dan tanggal satu Syawwal, caranya dengan Ru’yah (melihat bulan) atau hisab (menghitungnya). Hal ini dijelaskan sebagai berikut:

SAD: I: 542: 2342

حَدَّثَنَا مَحْمُوْدُ بْنُ خَالِدٍ وَعَبْدُاللهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الشَّمَرْقَنْدِيَّ قَالَ : حَدَّثَنَا مَرْوَانُ هُوَ ابْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ وَهْبٍ. عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ سَالِمٍ. عَنْ أَبِى بَكْرِ بْنِ نَافِعٍ. عَنْ أَبِيْهِ . عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: تَرَاءَى النَّاسُ الْهِلاَلَ فَأَخْبَرْتُ رَسُوْلَ اللهِ أَنِّى رَأَيْتُهُ فَصَامَ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِه

Bercerita kepada kami Mahmud bin Khalid dan Abdullah bin Abdur-Rohman As-Samarkandi. Ia berkata: Bercerita kepada kami Marwan yaitu Ibnu Muhammad dari Abdullah bin Wahab, dari Yahya bin Abdullah bin Salim, dari Abu Bakar bin Nafi, dari bapaknya, dari Ibnu Umar telah berkata: Orang-orang melihat hilal (tanggal satu), lalu aku ceritakan kepada Rasulullah  bahwa aku telah melihatnya, maka beliau shaum dan menyuruh orang-orang untuk shaum.

SM: I: 480: 3

عَنِ ابْنِ عُمَرَ  عَنِ النَّبِيِّ أَ نَّهُ ذَكَرَ رَمَضَانَ فَقَالَ: لاَ تَصُوْمُوْا حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَلَ وَلاَ تُفْطِرُوْا حَتَّى تَرَوْهُنَّ فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكَمْ فَاقْدُرُوْا لَهُ

Dari Ibnu Umar ra dari Nabi shollallohu`alaihi wasallam bahwa beliau menjelaskan mengenai Romadhon, maka beliau berkata: Janganlah kamu shaum sampai kamu melihat hilal dan jangan berbuka (Idul Fithri) sampai kamu melihat hilal, kemudian jika mendung maka tentukanlah/kira-kirakanlah.

SM: I: 480: 4

عَنِ ابْنِ عُمَرَ  أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ذَكَرَ رَمَضَانَ بِيَدَيْهِ فَقَالَ: الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا (ثُمَّ عَقَدَ إِبْهَامَهُ فِى الثَّالِثَةِ) فَصُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ. فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْا لَهُ ثَلاَثِيْنَ

Dari Ibnu Umar ra, bahwasanya Rasulullah  menyebutkan tentang Romadhon, maka beliau kepalkan kedua tangannya, kemudian berkata: Sebulan itu begini, begini dan begini (kemudian yang ketiga kalinya menggenggamklan ibu jarinya). Maka shaumlah kamu karena melihat hilal dan bukalah kamu karena melihat hilal. Jika mendung, maka kira-kirakanlah menjadi tiga puluh hari.

SM: I: 481: 6

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ إِنَّمَا الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُوْنَ. فَلاَ تَصُوْمُوْا حَتَّى تَرَوْهُ. وَلاَ تُفْطِرُوْا حَتَّى تَرَوْهُ. فَإِنْ غَمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْا لَهُ

Dari Ibnu Umar ra telah berkata: Rasulullah berkata: Sesungguhnya satu bulan itu dua puluh sembilan hari, maka janganlah shaum sampai kamu melihat hilal, dan janganlah berbuka (Id) sampai kamu melihat hilal. Maka jika mendung diatas kamu kira-kirakanlah.

SM: I: 481: 7

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ  قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ اَلشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُوْنَ. فَإِذَا رَأَ يْتُمُ الْهِلاَلَ فَصُوْمُوْا وَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَأَفْطِرُوْا. فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْا لَهُ

Dari Abdullah bin Umar ra telah berkata: Rasulullah  berkata: Sebulan itu ada dua puluh sembilan hari. Maka apabila kamu melihat hilal maka shaumlah kamu dan apabila kamu melihatnya, maka berbukalah kamu, maka jika keadaan mendung, maka hitunglah/kira-kiralah.

 SM: I: 481: 8

عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللهِ أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنِ عُمَرَ  قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ : إِذَارَأَ يْتُمُوْهُ فَصُوْمُوْا.وَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَأَفْطِرُوْا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْا لَهُ

Dari Salim bin Abdillah, bahawsanya Abdullah bin Umar telah berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah  berkata: Apabila kamu melihat hilal, maka shaumlah kamu, dan apabila kamu telah melihatnya lagi maka berbukalah kamu, maka jika mendung di atas kamu maka tentukanlah.

SM: I: 481: 9

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ دِيْنَارٍ. أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ  قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُوْنَ لَيْلَةً. لاَ تَصُوْمُوْا حَتَّى تَرَوْهُ وَلاَ تُفْطِرُوْا حَتَّى تَرَوْهُ إِلاَّ أَنْ يَغُمَّ عَلَيْكُمْ. فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْا لَهُ

Dari Abdullah bin Dinar, bahwasanya ia pernah mendengar Ibnu Uamr ra berkata: Rasulullah  berkata: Sebulan itu dua puluh sembilan malam, janganlah kamu shaum, sehingga kamu melihat hilal dan jangan kamu berbuka sehingga kamu melihat hilal, kecuali keadaan mendung, maka jika mendung disekitarmu, maka tentukanlah (hitungannya).

SM: I: 481: 11

عَنْ أَبِى سَلَمَةَ أَ نَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ  يَقُوْلُ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ : اَلشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُوْنَ

Dari Abu Salamah bahwa ia pernah mendengar Ibnu Umar berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah  berkata: Satu bulan itu dua puluh sembilan hari.

SM: I: 482: 17

عَنْ أَبِى هُرَ يْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا رَ أَ يْتُمُ الْهِلاَلَ فَصُوْمُوْا وَإِذَا رَأَ يْتُمُوْهُ فَأَفْطِرُوْا. فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَصُوْمُوْا ثَلاَثِيْنَ يَوْمًا

Dari Abu Huroiroh ra telah berkata: Rasulullah berkata: Apabila kamu telah melihat bulan/hilal maka shaumlah kamu dan apabila kamu telah melihatnya lagi, maka batalkanlah, maka jika mendung, maka shaumlah kamu sebanyak tiga puluh hari.

SM: I: 482: 18

عَنْ أَبِى هُرَ يْرَةَ  أَنَّ النَّبِيَّ قَالَ : صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ. فَإِنْ غُمِّيَ عَلَيْكُمْ فَاكْمِلُوْا الْعَدَدَ

Dari Abu Huroiroh ra bahwa Nabi  berkata: Shaumlah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat bulan, maka jika mendung menyelimut kamu, sempurnakanlah hitungannya.

SM: I: 482: 19

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ قَالَ : سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ  يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمِيَ عَلَيْكُمْ الشَّهْرُ فَعُدُّوْا ثَلاَثِيْنَ

Dari Muhammad bin Ziyad telah berkata: Aku pernah mendengar Abu Huroiroh ra berkata: Rasulullah  berkata: Shaumlah kamu karena melihat bulan dan berbukalah kamu karena melihat bulan. Maka jika mendung, sebulan itu hitunglah menjadi tiga puluh hari.

Keterangan:

Hadits-hadits shohih diatas memberikan penjelasan kepada kita bahwa :

  1. Shaum itu ditentukan dengan cara rukyatul hilal.
  2. Idul Fithri juga sama.
  3. Jika cuaca mendung, diperintahkan hisab.
  4. Bulan Hijriyah itu jumlahnya 29 hari.
  5. Maka hisab itu berlaku jika mendung dan digenapkan hitungan harinya menjadi 30 hari.

SN: II: 3: 133

عَنْ أَبِى هُرَ يْرَةَ  قَالَ: قَال َرسُوْ لُ اللهِ صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ. فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ الشَّهْرُ فَعُدُّوْا ثَلاَثِيْنَ

Dari Abu Huroiroh ra telah berkata: Rasulullah berkata: Shaumlah kamu karena telah melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Maka jika mendung, sebulan itu hitung saja menjadi tiga puluh hari.

 SN: II: 3: 133

عَنْ أَبِى هُرَ يْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَ أَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْا ثَلاَثِيْنَ

Dari Abu Huroiroh ra telah berkata: Rasulullah  berkata: Shaumlah kamu berdasarkan ru’yatul hilal, dan berbukalah kamu berdasarkan ru’yatul hilal. Maka jika mendung hitunglah menjadi tiga puluh hari.

SN: II: 3: 133/134

عَنْ أَبِى هُرَ يْرَةَ  قَالَ : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : إِذَا رَأَ يْتُمُ الْهِلاَلَ فَصُوْمُوْا وَإِذَا رَأَ يْتُمُوْهُ فَأَفْطِرُوْا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَصُوْمُوْا ثَلاَ ثِيْنَ. يَوْمًا

Dari Abu Huroiroh ra telah berkata: Sesungguhnya Rasulullah berkata: Apabila kamu melihat hilal maka shaumlah dan apabila kamu melihatnya lagi maka berbukalah, maka jika berawan, maka shaumlah tiga puluh hari.

SN: II: 3: 134

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ:حَدَّثَنِى سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللهِ أَنَّ عَبْدِ اللهِ بْنَ عُمَرَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِذَا رَأَ يْتُمُ الْهِلا لَ فَصُوْمُوْا وَإِذَا رَأَ يْتُمُوْهُ فَأَفْطِرُوْا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْا لَهُ

Dari Ibnu Syihab telah berkata: Bercerita kepadaku Salim bin Abdillah, bahwa Abdullah bin Umar telah berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah  berkata: Apabila kamu melihat hilal, maka shaumlah dan apabila kamu melihatnya lagi maka berbukalah, maka jika mendung, tentukanlah.

SN: II: 3: 134

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ذَكَرَ رَمَضَانَ فَقَالَ : لاَ تَصُوْمُوْا حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَلَ وَلاَ تُفْطِرُوْا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْا لَهُ

Dari Ibnu Umar, sesungguhnya Rasulullah telah menjelaskan mengenai Romadhon, lalu beliau berkata: Janganlah kamu shaum sampai kamu melihat hilal dan janganlah kamu berbuka sampai kamu melihatnya lagi. Maka jika mendung maka tentukanlah.

SN: II: 3: 134

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ قَالَ : لاَ تَصُوْمُوا حَتَّى تَرَوْهُ وَلاَ تُفْطِرُوْا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكَمْ فَاقْدُرُوْا لَهُ

Dari Ibnu Umar, dari Nabi telah berkata: Janganlah kamu shaum sampai kamu melihat hilal dan janganlah kamu berbuka sampai kamu melihatnya lagi, maka jika keadaan mendung, maka tentukanlah.

SN: II: 3: 134

عَنْ أَبِى هُرَ يْرَةَ قَالَ : ذَكَرَ رَسُوْلُ اللهِ الْهِلاَلَ. فَقَالَ : إِذَا رَأَ يْتُمُوْهُ فَصُوْمُوْا وَإِذَا  رَأَيْتُمُوْهُ فَأَفْطِرُوْا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَعُدُّوْا ثَلاَثِيْنَ

Dari Abu Huroiroh telah berkata: Rasulullah  bercerita tentang hilal, lalu beliau berkata: Apabila kamu melihatnya maka shaumlah dan apabila kamu melihatnya lagi maka berbukalah, maka jika mendung, maka hitunglah menjadi tiga puluh hari.

SN: II: 3: 135

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكَمْ فَاكْمِلُوْا العِدَّةَ ثَلاَثِيْنَ

DariIbnu Abbas ra telah berkata: Rasulullah  berkata: Shaumlah kamu berdasarkan ru’yatul hilal dan berbukalah kamu berdasarkan ru’yatul hilal, maka jika mendung, maka sempurnakanlah hitungan menjadi tiga puluh hari.

Keterangan:

Berdasarkan hadits-hadits shohih diatas, baik Muslim, Nasai maupun riwayat Abu Daud, bahwa perintah shaum itu berdasarkan:

  1. Ru’yatul hilal, jika mendung, maka dilakukan.
  2. Hisab.
  3. Sesuai dengan Qs: 2: 185 yaitu :

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

  • “Maka siapa saja yang menyaksikan bulan, maka shaumlah pada bulan itu”.

Jelaslah bahwa perintah shaum itu harus berdasarkan ru’yah, kemudian dengan cara hisab atau jika mendung genapkan hitungannya menjadi tiga puluh hari.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Info Sekolah

Pesantren Missi Islam Pusat Jakarta

NPSN 510031720021
Jln. Alur Laut Gg. Waru 1 RT.005 RW.03 Kp. Walang Kel. Rawabadak Selatan Kec. Koja, Jakarta Utara
TELEPON 021 4354582
EMAIL missiislampusat@gmail.com
WHATSAPP 6285883828202

Member Ustadz

TABUNGAN AKHIRAT

Bagi siapa saja kaum muslimin dan muslimat yang hendak menyalurkan infaq/ shodaqohnya untuk keperluan operasional harian pesantren termasuk makan para santri, bisa transfer ke :

No Rekening : ( 451 ) 700 995 912 7

Bank : BSI

A/N : Yayasan Missi Islam Kaaffah

Konfirmasi : 0858 8382 8202

semoga infaq/ shodaqoh para muhsinin menjadi amal ibadah dan pemberat timbangan di akhirat Amin...

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x